Friday, June 3, 2016

Hari Kiamat adalah hari yang besar. Hari dimana orang taat dan pelaku maksiat keduanya menyesal. Mereka yang taat menyesal, kenapa dulu tidak beramal lebih banyak dari apa yang telah dilakui. Pelaku maksiat, sesal mereka adalah sesal yang tak terperi. ‘Sekiranya kami dulu mendengarkan dan merenungi, tentu kami tidak menjadi penghuni neraka ini’, kata mereka.
buku panduan ramadhan lengkap 2016
Ada sebuah kisah, yang mengingatkan kita akan besarnya pertanggung-jawaban di hari Kiamat. Kisah tersebut tentang sahabat Nabi ﷺ yang bernama Abu Darda radhiallahu ‘anhu dengan seekor ontanya.

Abu Darda memiliki seekor onta yang ia beri nama Damun. Tidak pernah ia letakkan suatu barang yang tidak mampu dibawa oleh onta itu. Apabila ada seorang yang meminjam si onta, Abu Darda berpesan, ‘Engkau hanya boleh membawa barang ini dan ini padanya, karena ia tidak mampu membawa yang lebih banyak dari itu’.

Ketika serasa ajal hendak datang menjemputnya, Abu Darda memandang ontanya kemudian berkata, “Wahai Damun, jangan kau musuhi aku esok di hadapan Rabbku”, jangan kau tuntut aku pada hari Kiamat kelak di hadapan Rabbku wahai Damun, begitu kiranya kata Abu Darda. “Karena demi Allah, aku tidak pernah membebankan kepadamu kecuali yang engkau sanggupi”, tutupnya.

Semoga Allah ﷻ meridhai Abu Darda, dan mengampuni kesalahannya.
Tentu kita teringat akan diri kita. Suami akan teringat kepada istrinya, dan istri merenungkan adakah kata yang telah membebankan suami.

Adakah kita sebagai suami memberi beban yang tidak mampu diemban istri?
Adakah kita sebagai istri menuntut sesuatu yang terasa berat bagi suami?
Adakah kita mengusahakan sesuatu di dunia ini, yang nanti kita akan menyesali “Seandainya dulu aku tidak melakukan hal ini…”

Abu Darda radhiallahu ‘anhu, seorang yang shaleh, menghisab dirinya atas ontanya, tentu kita lebih layak lagi berkaca dan mengoreksi diri.
Wahai Damun, jangan kau musuhi aku esok di hadapan Rabbku. Karena demi Allah, aku tidak pernah membebankan kepadamu kecuali yang engkau sanggupi.

Kisah Abu Darda ini diambil dari potongan khotbah Jumat Syaikh Shalih bin Thaha Abdul Wahid:


Oleh Nurfitri Hadi (@nfhadi07)
Artikel www.KisahMuslim.com

Jangan Kau Tuntut Aku Kelak

Manusia adalah makhluk yang memiliki kecenderungan untuk bercermin kepada orang lain; meniru tingkah laku dan gerak-geriknya, mengikuti gaya hidupnya; mulai dari cara berpakaian, cara berdandan, potongan rambut, model rumah, kendaraan, bahkan kadang sampai cara tersenyum dan berbicaranya mengikuti gaya orang lain, yang dia anggap lebih baik dan lebih sempurna dari dirinya.

Perkataan orang lain yang menjadi cerminnya adalah mutiara petuah dan permata nasihat bagi kehidupannya. Informasi perkembangan cerminnya senantiasa di up date, tidak pernah ketinggalan. Bahkan foto-foto dan gambar-gambar sang idola terpampang di dinding rumahnya atau di dinding FB dan BBnya.
buku panduan ramadhan lengkap 2016
Dia akan marah bila ada yang bersuara sumbang tentang cerminnya, bahkan dia siap pasang badan bagi siapa saja yang menebarkan debu kotor padanya. Karena bagi dia, hanya orang itulah yang pantas untuk diikuti, seorang panutan dan suri tauladan..
Namun sayangnya banyak yang bercermin pada cermin yang pudar bahkan berantakan, sehingga hidupnya menjadi berantakan walaupun godaan iblis dan bisikan nafsu menghiasi keberantakan dirinya.
Ia merasa senang dan gembira dengan gaya hidupnya, padahal ia jauh dari standarisasi kebahagian yang hakiki.
Dan cermin dalam kehidupan memiliki fungsi dan peran yang sangat penting dalam mengarahkan alur hidup seorang hamba. Iblis dan bala tentaranya sangat mengetahui hal ini, sehingga mereka berusaha untuk menciptakan cermin-cermin pudar dan berantakan namun dihiasi beribu berlian yang gemerlapan, sehingga manusia silau dan berebut untuk bercermin kepadanya.
Sebagai contoh adalah fenomena acara di televisi yang menceritakan kehidupan para artis atau yang mirip dengannya, di mana acara ini mengandung propaganda agar para pemirsa, dari mulai anak-anak, para remaja, muda-mudi bahkan yang tua pun untuk bercermin kepada mereka. Sehingga yang buruk dan dimurkai Ilahi bila datangnya dari para artis idola, akan dianggap biasa bahkan diikuti tanpa rasa malu, karena buat mereka itu indah dan sempurna.
Islam adalah agama yang sesuai dengan fitrah manusia, Allah Jalla Jalaluhu mengetahui dengan pasti apa yang dibutuhan makhluk ciptaannya, manusia butuh cermin, dan dia memang suka bercermin, maka agar manusia ini tidak bercermin kepada cermin yang pudar nun pecah dan berantakan, Allah Jalla Jalaluhu menjelaskan dalam kalamnya kepada siapa manusia harus bercermin, karena Allah telah menciptakan cermin-cermin indah dan elok, di mana Allah Jalla Jalaluhu setelah menceritakan kisah-kisah para nabi sebelum nabi kita Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam, Allah berfirman kepada nabi Nya:
أولَـئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ
“Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka (QS. Al An’am:90).
Subhanallah, merekalah yang pantas ditiru tingkah laku dan dicontoh gaya hidup, mereka adalah orang bahagia calon penghuni surga.
Dan kisah-kisah indah lagi penuh makna yang disebutkan di dalam Alquran dan sunah bukanlah hanya sekedar untuk wawasan dan wacana belaka, namun lewat kisah-kisah itu, umat harus belajar, mengikuti petunjuk-petunjuk mereka, dan menjadikan mereka cermin dalam mengarungi samudera kehidupan.
Nabi Muhammad shallallahu ‘alahi wa sallam adalah sosok cermin yang sangat elok, yang tak pudar dimakan zaman, bahkan Allah menekankan tentang hal ini di dalam Alquran
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآَخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab: 21).
Para sahabat telah benar-benar bercermin kepada Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam, kemudian para tabi’in tidak pernah meninggalkan cermin yang tak pernah pudar itu, sehingga mereka pun menjadi cermin-cermin elok bagi murid-murid mereka yang berlanjut sampai hari ini.
Menyelami lautan kehidupan mereka akan menambah gereget keimanan, memompa semangat untuk beramal baik, apalagi di masa kini, masa krisis figur sehingga sulit mencari cermin yang elok, Abu Hanifah berkata:
الحكايات عن العلماء ومحاسنهم أحب إلي من كثير من الفقه لأنها آداب القوم
“Kisah para ulama lebih aku sukai daripada banyak pelajaran fiqih, lantaran dalam kisah itu terdapat gambaran akhlaq dan adab mereka.” (Tartib al-Madarik, Qadhi ‘Iyadh 1:23).
Salah satu cermin yang elok dan tak pudar adalah kehidupan salah seorang tabi’ut tabi’in Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali Maulahum al-Marwazi, yang dilahirkan pada tahun 118 H. Ayah ia berdarah Turki, dahulunya adalah seorang hamba sahaya, sedangkan ibunda ia berasal dari Khawarizm di Persia.
Tengoklah bagaimana putra mantan budak ini kelak menjadi seorang ulama hebat dan konglomerat yang dermawan. Imam Dzahabi menyebutkan tentangnya:
الإِمَامُ، شَيْخُ الإِسْلاَمِ، عَالِمُ زَمَانِهِ، وَأَمِيْرُ الأَتْقِيَاءِ فِي وَقْتِهِ، الحَافِظُ، الغَازِي، أَحَدُ الأَعْلاَمِ،.
Dialah Imam, Syaikhul Islam, yang paling alim di masanya, pimpinannya orang-orang yang bertaqwa di waktunya, al-Hafidz al-Ghazi (seorang pejuang) salah satu tokoh.
Ibnul Mubarak, telah mulai menuntut ilmu pada waktu yang mungkin agak terlambat, Imam adz-Dzahabi menyebutkan dalam ensiklopedinya Siyar A’lam an-Nubala’, bahwa ia baru memulai menimba ilmu tatkala usia ia memasuki dua puluh tahun, namun hal ini tidak membuat ia tertinggal oleh teman-temannya yang telah menimba ilmu terlebih dahulu.
Perlu digarisbawahi, bahwa tiada kata terlambat untuk menuntut ilmu, karena ilmu tetap bersahaja sampai kapanpun, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
الدنيا ملعونة ملعون ما فيها إلا ذكر الله وما والاه وعالما أو متعلما
“Dunia ini terlaknat dan dilaknat segala sesuatu yang ada padanya, kecuali dzikirullah dan ketaatan kepada-Nya, orang yang berilmu, dan orang yang belajar ilmu.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah, dihasankan Albani).

Belajar di Penjara:

Guru tertua ia adalah al-Allamah al-Muhaddits Rabi’ bin Anas al-Khurrsani, salah seorang paling berilmu di masanya. Ada yang unik dengan cara Ibnul Mubarak belajar kepada gurunya ini, di mana saat itu orang-orang tidak dapat berjumpa dan belajar kepadanya, karena gurunya ini sedang berada di dalam penjara, disebabkan kezhaliman penguasa saat itu, maka Ibnul Mubarak bersisasat agar bisa mendengarkan dan meriwayatkan hadis darinya, dan ia pun berhasil meriwayatkan kira-kira 40 hadis darinya.
Sesulit apapun kondisi hamba, dia tetap harus berusaha untuk belajar dan menimba ilmu.

Guru-guru Abdullah bin al-Mubarak

Al-Abbas bin Mush’ab meriwayatkan dari Ibrahim bin Ishaq al-Bunani, ia meriwayatkan bahwa Ibnul Mubarak berkata; “Aku telah belajar kepada 4 ribu guru, dan aku meriwayatkan hadis dari 1000 guru”. Al-Abbas bin Mush’ab berkata: Maka aku pun menelusuri guru-guru yang ia meriwayatkan hadis dari mereka sehingga terkumpul bagiku 800 gurunya. Subhanallah.

Kedudukan Abdullah bin al-Mubarak

Seorang ahli hadis Abu Usamah, Hammad bin Usamah berkata tentang Abdullah bin al-Mubarak,
ابْنُ المُبَارَكِ فِي المُحَدِّثِيْنَ مِثْلُ أَمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ فِي النَّاسِ
“Ibnul Mubarak di kalangan ahli hadis adalah serupa dengan amirul mu’min (penguasa umat) di kalangan manusia secara umum.”
Subhanallah, pada hakikatnya ilmu adalah lebih mulia dan utama dari harta benda dan kekuasaan ataupun jabatan dan kedudukan, simaklah kesaksian seorang yang tinggal di istana raja yang penuh dengan kemewaah dan kelimpahan harta, diriwayatkan bahwa salah satu Ummu Walad khalifah Islam saat itu, yaitu Harun al-Rasyid. Pada suatu waktu Khalifah Harun al-Rasyid berkunjung ke kota Raqqah di Syiria, namun tiba-tiba orang-orang berebut mengikuti Abdullah bin al-Mubarak, sehingga sandal-sandal terputus dan debu berterbangan, maka sang Khalifah ini melongok keluar dari menara istana yang terbuat dari kayu, seraya berkata keheranan,
“مَا هَذَا؟  قَالُوا: عَالِمٌ مِنْ أَهْلِ خُرَاسَانَ قَدِمَ.
قَالَتْ: هَذَا -وَاللهِ- المُلْكُ، لاَ مُلْكَ هَارُوْنَ الَّذِي لاَ يَجْمَعُ النَّاسَ إِلاَّ بِشُرَطٍ وَأَعْوَانٍ”.
“Ada apa ini?”, maka orang-orang yang di sekitarnya berkata, “Ini ada seorang alim ulama dari Khurasan yang datang”. Maka dia pun berkata, “Demi Allah, inilah yang dikatakan kerajaan, bukan kerajaan Harun yang tidak mengumpulkan manusia kecuali dengan pasukan dan hulu baling.”

Kerendahan Hati Abdullah bin al-Mubarak

Ibnul Mubarak adalah orang yang memiliki sifat tawadhu’ (rendah hati) dan jauh dari kesombongan, dikisahkan pada suatu hari bahwa Abdullah bin al-Mubarak menghadiri majlis hadis gurunya Hammad bin Zaid, maka para penuntut hadis itu berkata kepada Hammad: “Mintakan kepada Abi Abdirrahman (yakni Abdullah bin al-Mubarak) untuk meriwayatkan hadis kepada kami”, maka sang Guru berkata
قَالَ: سُبْحَانَ اللهِ! يَا أَبَا إِسْمَاعِيْلَ، أُحَدِّثُ وَأَنْتَ حَاضِرٌ. فَقَالَ: أَقسَمتُ عَلَيْكَ لَتَفْعَلَنَّ.
“Wahai Aba Abdirrahman riwayatkanlah hadis untuk mereka, sesungguhnya mereka telah memohon kepadaku hal ini”.  Abdullah bin al-Mubarak tertengun dengan hal itu seraya berkata, “Subhanallah, Wahai Aba Ismail (kun-yah Hammad bin Zaid) bagaimana mungkin aku meiwayatkan hadis sedang dirimu hadir di sini”, mendengar itu Hammad bin Zaid berkata; “Aku bersumpah kepadamu agar kamu melakukannya”. Maka karena sumpah gurunya ini, terpaksa Ibnul Mubarak menurutinya, dan ia pun berkata “Ambillah, telah meriwayatkan kepada kami Abu Ismail Hammad bin Zaid”, tidaklah ia meriwayatkan satu hadis pun pada saat itu kecuali hadis-hadis yang didengarnya melalui jalur gurunya Hammad”.
Allahu Akbar, beginilah seharusnya akhlaq para ulama, saling menghormati dan saling menghargai, karenanya ilmu mereka bermanfaat untuk umat.

Kebiasaan yang Aneh

Abdullah bin al-Mubarak memiliki suatu kebiasaan yang agak aneh menurut teman-temannya, di mana ia lebih menyukai duduk sendirian di rumahnya dari pada ngobrol bersama teman-temannya, sehingga mereka bertanya:
: أَلاَ تَسْتَوحِشُ؟ فَقَالَ: كَيْفَ أَسْتَوحِشُ وَأَنَا مَعَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- وَأَصْحَابِهِ؟!
“Apakah kamu tidak merasa kesepian?”. Maka ia menjawab, “Bagaimana Aku akan merasa kesepian sedangkan aku bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiallau ‘anhum“, yakni mengkaji sunah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Subhanallah, seharusnya apabila kita bila merasa bosan di rumah, jenuh dengan rutinitas, maka cobalah mengusirnya dengan membaca kitabullah dan hidup bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya, khususnya ibu-ibu yang berada di rumah.

Kelembutan Hati dan Ketakutannya kepada Allah

Selain keilmuaannya yang matang, Ibnul Mubarak adalah sosok alim ulama yang lembut hatinya, Nu’aim bin Hammad menceritakan bahwa Apabila Ibnul Mubarak membaca buku-buku raqaa-iq (tentang kelembutan hati), maka seakan-akan dia adalah seekor lembu yang disembelih, karena menangis, sehingga tiada seorang pun yang berani bertanya sesuatu kepadanya kecuali akan didorongnya”.
Nuaim bin Hammad juga berkata bahwa pada suatu hari seseorang berkata kepada Ibnul Mubarak, “Aku telah membaca seluruh Alquran dalam satu rakaat”. Ibnul Mubarak berkata kepadanya; “Akan tetapi aku mengetahui seseorang yang semalam suntuk mengulang-ulangi Al Hakumuttakastur sampai fajar terbit, dia tidak mampu untuk melampauinya”.  Dan orang yang dimaksud olehnya adalah dirinya sendiri.
Subhanallah, semakin berilmu seorang, maka akan semakin bertambah rasa takutnya kepada Allah Ta’ala, membaca Alquran yang baik adalah bukan yang cepat dan kilat, sehingga dia tidak dapat menghayati apa yang dibaca, namun yang baik adalah bagaimana mengaji sambil menghayati isi dari firman Allah itu, Allah Ta’ala berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu, yang penuh dengan berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya orang-orang yang mempunyai pikiran mendapat pelajaran.” (QS. Shad:29)
Bersambung…
Oleh: Syafiq Riza Hasan Basalamah MA

Cermin yang Pudar

Saturday, April 2, 2016

Nak....
Jika suatu hari engkau hadir diantara kami, aku harap engkau tidak malu memiliki orang tua seperti kami, orang tuamu ini tidak indah jauh dari kata sempurna.

Nak....
Jika suatu hari engkau hadir diantara kami, semoga Allah menitipkan seseorang yang soleh / solehah agar engkau menjadi sitar (penghalang) api Neraka untuk kami dikarenakan ibadah Engkau.

Nak....
Jangan menjadi seperti kami, engkau harus jauh lebih baik dari kami,bukan tentang perkara dunia melainkan perkara akhirat.

Nak....
Jangan khawatirkan duniamu sudah kewajiban kami untuk mencukupi kebutuhanmu, tidak perlu engkau berletih mencari dunia berletihlah engkau mengkaji alqur'an perbanyaklah hapalanmu karena orang pintar / cerdas adalah para pengahapal alqur'an.

Nak....
Jangan engkau pikirkan rezekimu, biar kami cukupkan keperluanmu berpakaianlah sesuai syariat islam duduk dengan tenang dengarkan nasihat / kajian ustadz / ustadzahmu istiqomahlah engkau dalam menuntut ilmu islam.

Nak...
Maafkan orang tuamu jika engkau tanyakan tafsir ayat alqur'an kami tidak mengetahuinya ataupun kisah juraij dan sebagainya, tetapi engkau tidak perlu khawatir karena kami akan mengajarkan engkau Sunnah bukan Bid'ah, karena segala sesuatu yg baru dalam islam (bid'ah) tempatnya di Neraka.

Nak....
Jika suatu hari engkau hadir diantara kami, janganlah Engkau iri dengan orang tua lain yg sibuk mendandani anaknya seperti putri / pangeran, ketahuilah kami lebih senang engkau menggunakan sarung / mukena kemudian Kemudian mengingatkan kami untuk shalat, untuk mengkaji alqur'an dan sunnah Nabi SAW.

Nak....
Jika suatu hari nanti engkau hadir diantara kami, janganlah engkau iri terhadap anak lain jika kami tidak mengajari engkau science atau teknologi secara berkesinambungan, kami lebih senang engkau paham ilmu Tauhid (Mengesakan Allah SWT).

Nak....
Dunia orang tuamu ini sudah gila dunia engkau akan lebih gila lagi, dan entah umur kami akan sampai atau tidak hingga engkau dewasa nanti, ingatlah pesan Nabi kita bahwa islam datang dalam keadaan asing dan diakhir zaman akan kembali asing, ketahuilah nak zaman tersebut adalah zaman ini.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang berumur panjang di antara kalian, kelak dia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaknya kalian tetap berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Berpegang teguhlah dengannya. Gigitlah dengan gigi geraham kalian. Berhati-hatilah kalian dengan perkara-perkara yang baru dalam agama, karena setiap ajaran yang baru dalam agama Islam adalah termasuk perbuatan bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka” (HR. An Nasa’i, derajat :hasan shahih).

Nak...
Jika suatu hari nanti engkau hadir diantara kami, jadilah penyejuk pandangan kami, jadilah seorang ahli sunnah bukan ahli bid'ah.

Nak...
Jika suatu hari nanti engkau hadir diantara kami, jangan menjadi seperti kami, engkau harus lebih baik dari kami dan mampu Menasehati kami dalam kebaikan dikarenakan ilmu islam yang engkau lebih jauh miliki daripada kami.

Nak...
Engkau bukanlah obsesi kami, engkau bukanlah mainan kami, engkau adalah titipan Allah yang kelak kami akan diminta pertanggung jawaban atas pendidikan engkau. Ketahuilah nak engkau adalah Surga atau Neraka bagi kami.



Dari kami yang menanti si buah hati.
------------------------------------------------------------
Written By Dendi Prana Yudha.
23 jumada al-thani 1437 H / 2 April 2016 
Pukul 00:02 WIB

Nak Jika Suatu Hari Engkau....

Thursday, March 17, 2016


Tulisan untuk sebuah renungan tapi tidak mudah untuk dijalankan.

Sebuah renungan, "PANDANGAN HIDUPKU"..

Dulu ....
Aku sangat KAGUM pada manusia yang :
» Cerdas, 
» Kaya, 
» Berhasil dalam Karir, 
» Hidup sukses, 
»  dan Hebat  Dunianya.

Sekarang ... 
Aku memilih untuk mengganti kriteria kekagumanku. 
Aku kagum dengan :
» Manusia yang Hebat di mata TUHAN,   
» Sekalipun kadang penampilannya begitu biasa dan sangat bersahaja.

Dulu ... 
Aku memilih MARAH ketika merasa 'Harga Diriku' dijatuhkan oleh orang lain yang 'Berlaku Kasar Kepadaku' dan menyakitiku dengan 'Kalimat-Kalimat Sindiran'.

Sekarang ... 
Aku memilih untuk 
BANYAK BERSABAR & MEMAAFKAN, Karena aku yakin 'Ada Hikmah Lain'.  yang datang dari mereka ketika aku mampu untuk 'Memaafkan & Bersabar'.

Dulu ... 
Aku memilih MENGEJAR DUNIA dan 'Menumpuknya' sebisaku....
Ternyata aku sadari kebutuhanku hanyalah 'Makan dan Minum' untuk hari ini. 

Sekarang ... 
Aku memilih untuk BERSYUKUR & BERSYUKUR dengan apa yang ada dan memikirkan bagaimana aku bisa 'Mengisi Waktuku' hari ini dengan apa yang bisa aku lakukan/perbuat dan bermanfaat 'Untuk Sesamaku'. 

Dulu ... 
Aku berpikir bahwa aku bisa MEMBAHAGIAKAN 
» Orang tua, 
» Saudara, 
» dan teman-temanku 
jika aku berhasil dengan duniaku... Ternyata yang membuat mereka bahagia 'Bukan Itu', melainkan : 
» Ucapan, 
» Sikap, 
» Tingkah, 
» dan Sapaanku kepada mereka. 

Sekarang ... 
Aku memilih untuk 'Membuat Mereka Bahagia' dengan apa yang ada padaku karena aku ingin ke-Manfaat-an ku ditengah-tengah mereka...
(Sebaik-baik Manusia adalah yg Bermanfaat buat Manusia lainnya)

Dulu ... 
Fokus pikiranku adalah membuat RENCANA-RENCANA DAHSYAT untuk Duniaku...
Ternyata aku menjumpai teman dan saudara-saudaraku begitu cepat menghadap kepada-NYA...

Sekarang ... 
yang menjadi 'Fokus Pikiran' dan 'Rencana-Rencana' ku adalah Bagaimana agar Hidupku dapat Berkenan di mata TUHAN dan Sesama jika suatu saat nanti diriku dipanggil oleh-NYA.

→ Τak ada yang  dapat menjamin bahwa aku dapat menikmati 'Teriknya Matahari Esok Pagi'

→ Τak ada yang  bisa memberikan jaminan kepadaku bahwa aku masih bisa 'Menghirup udara Besok Hari'. 

Jadi apabila 'Hari Ini dan Esok Hari' aku masih hidup, itu adalah karena kehendak TUHAN  semata, bukan kehendak siapa-siapa...

Renungan ini mengintropeksi kita agar lebih mawas diri bahwa :
'DULU' aku ini siapa?
Dan 'SEKARANG' aku mau kemana?

Semoga bermanfaat

Fokus Pikiran

Monday, November 23, 2015

mendoakan-orang-lain
Syaikh Ali Mustafa Thantawi –rahimahullah– mengatakan: “Diantara kebiasaanku adalah aku tidak akan berkendaraan bila aku mampu berjalan kaki. Aku tidak akan berjalan dibawah tempat yang teduh bila aku mampu berjalan di bawah panas terik. Tidak peduli terik Lebanon dibulan Oktober atau teriknya India dibulan Juni.

Saat itu matahari begitu cerah dan panas, aku melepas dasiku dan memasukkannya kedalam kantong bajuku. Tiba-tiba seorang kawan berpapasan denganku, dia adalah kawan yang sangat aku hormati. Namun yang aku tidak suka darinya adalah sikapnya yang lebih keras memegang tradisi ketimbang agamanya. Belum selesai mengucap salam, dia langsung menatapku dengan tatapan yang tidak mengenakkan dan berkata, “Bagaimana bisa anda melakukan ini?”.

Akupun kaget dan berujar, “Apa yang sudah kulakukan? Apakah aku telah melakukan bid’ah dalam Islam? Atau telah menolong pelaku bid’ah? Atau telah melakukan suatu kejahatan.? Jelaskan padaku… Katakan padaku , kabar apa yang sampai kepadamu tentang diriku? Mungkin saja orang yang menyampaikan kabar itu fasik atau pembohong”.

Dia menjawab, “Tak ada seorangpun yang mengabariku tentangmu. Tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri” (sambil memberi isyarat padaku).
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
Temanku menjawab, “Dasi, bagaimana mungkin engkau berjalan tanpa mengenakan dasi. Itu tidak pantas bagi seorang konsultan sepertimu. Apa kata orang nanti?”.
Aku tidak meneruskan percakapan itu. Aku duduk sejenak dan berfikir, kalau begitu selama ini kita mengerjakan segala sesuatu untuk manusia?

Kita mencekik diri kita dengan mengikatkan dasi ke leher, kemudian rela menahan rasa gerah karena panasnya matahari dimusim panas demi manusia?
Wanita menggunakan sepatu hak tinggi, padahal berjalan menggunakan hak tinggi lebih sulit ketimbang berjalan di atas tali. Bagi pria yang tidak percaya silahkan berjalan diatas jari kaki sepanjang 100 langkah. Padahal tidak ada gunanya memakai sepatu seperti itu, tidak ada keindahan disana. Tapi itulah yang diinginkan manusia.

Seorang pemuda menyisir rambutnya dengan sangat modis selama setengah jam. Sepanjang hari ia menjaga agar model rambutnya tidak dirusak oleh terpaan angin dan kejahilan tangan orang lain. Bahkan bila timbul rasa gatal di kepalanya, ia rela menahan rasa gatal tersebut sepanjang hari. Kenapa? Karena manusia! Semua kreasinya untuk manusia.

Wanita, sifat baiknya untuk manusia. Ia menyambut kedatangan sahabatnya dengan wajah yang berseri-seri. Bibirnya mengukir senyuman, sikapnya sangat santun. Namun ia bersikap kasar terhadap suaminya, menatapnya dengan tatapan sinis dan berbicara dengan bahasa yang kasar. Begitu pula para suami.
Bila keluar rumah ia bersolek, memakai minyak wangi dan mengenakan pakaian yang paling indah untuk orang asing. Namun saat bertemu sang suami, ia membiarkan rambutnya acak-acakan, wajahnya muram, bahkan dari pakaiannya sering tercium bau bawang putih dan bawang merah. Begitu juga para suami.
Meja makan tertata rapi diruang makan untuk orang lain. Bila tamu datang piring-piring ditata rapi, agar semakin indah, tak lupa dilengkapi hiasan bunga. Namun setelah tamu pergi, tempat makannya pindah ke dapur.

Terkadang kita rela berletih dan berpeluh untuk meraih simpati manusia. Semua yang kita lakukan untuk manusia.
Bila ingin menikahkan putri kita, kita jarang memikirkan kemaslahatannya dan juga kemaslahatan calon suaminya. Kita tidak berfikir untuk kebahagiaan mereka. Yang kita pikirkan adalah bagaimana kemeriahan resepsinya nanti? Semua demi mencari ridho manusia.

Kita tidak bertanya (kecuali sedikit) tentang akhlak dan sifat calon mempelai pria. Kita hanya bertanya soal mahar yang akan dibayarnya, agar kita bisa menceritakan pada orang lain bahwa “Mahar putriku 10.000 lira”. Juga soal perlengkapan pesta agar orang berkata, “Masyaallah perlengkapannya begitu mewah” dan soal bagaimana (kemegahan) resepsi perkawinan. Kita berlomba untuk membuat syaithan ridho dengan pemborosan harta pada hal-hal seperti itu.

Baju pengantin yang dipakai selama satu malam harganya paling kurang 200 lira, kadang bisa mencapai 2000 lira. Kotak cendera mata harganya paling sedikit 1 lira, kadang hingga 20 lira.
Untuk apa semua itu. .?
Untuk kepentingan resepsi. ? Demi Allah tidak.
Untuk meraih pahala dan surga. ? Demi Allah tidak.
Untuk mencari harta. ? Demi Allah tidak.
Kalau begitu lantas untuk apa.?
Ya, Untuk manusia!

Padahal orang-orang itu tidak akan ridho padamu, karena sebesar apapun uang yang engkau belanjakan untuk pernikahan, maka diantara manusia ada yang bisa mengeluarkan biaya yang lebih besar darimu. Mereka tetap akan berkomentar, “Pesta macam apa ini. ? Cendra mata apa ini. ? Punya fulan harganya lebih mahal dari ini, resepsi fulan jauh lebih meriah dari resepsi ini”.
Begitu juga dengan kedukaan, lebih mirip pesta. Semua berlomba dalam pemborosan harta. Andai mereka mencukupkan diri pada kemaslahatan mempelai dan keluarga yang berduka. Tapi tidak, setiap pernikahan dan kedukaan menelan biaya yang mampu menutupi musibah 30 keluarga.
Manusia…

Semua demi manusia..,
Wahai manusia… Kapan kita bisa hidup untuk diri kita sendiri?
Kapan kita mau bertindak menurut batasan syariat dan akal sehat kita?

***
(Diringkas dari kitab Ma’a An-Nas karya Syaikh Ali Thantawi. hal 51-56)
Madinah 02-01-1437 H
Penulis: Aan Chandra Thalib Lc.
Artikel Muslim.or.id

Ketika Semua Dari dan Untuk Manusia

Tuesday, October 13, 2015

Ustadz Syafiq Basalamah, MA, حفظه الله تعالى

Ada tiga perkara, bila kau memilikinya, kau bagaikan Raja yang paling kaya di dunia ini.
Pertama : Aman
Perasaan aman yang meliputi jiwa dan membalut hati, aman karena kau beriman dan takut pada Ilahi, hingga Allah menjagamu.
Ia merasa aman, karena ia tidak suka menyakiti tetangganya, temannya, orang-orang Islam, tidak suka mengadu domba, bahkan menjaga lisannya dengan baik maka jiwanya aman.
Bukan aman karena rumah dijaga oleh 4 satpam 5 anjing galak atau aman, karena pasang CCTV dan alarm yang setiap saat bisa berbunyi,
Bukan itu, justru itu semua tanda-tanda jika kau tidak aman.
Kedua : Afiah
Tubuhmu sehat wal’afiat
Tak penyakitan, tak ada pantangan, tak boleh ini, tak boleh itu. Padahal cari duit ‘tuk makan ini dan itu.
Sekarang, tak boleh di gunakan tuk makan ini dan itu.
Ketiga: Memiliki makanan hari itu
Bukan brangkas yang berisi fulus.
Bukan ATM yang penuh.
Bukan tabungan yang cukup untuk 7 keturunan.
Cukup memiliki makanan hari ini
Besok gimana?
Serahkan pada Allah.
Yang tiada bisa diadakan, kalau Allah berkehendak dan kita mau berusaha.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ آمِنًا فِي سِرْبِهِ ، مُعَافًى فِي جَسَدِهِ ، عِنْدَهُ قُوتُ يَوْمِهِ ، فَكَأَنَّمَا حِيزَتْ لَهُ الدُّنْيَا بأسرها
“Siapa diantara kalian yang memasuki waktu pagi hari dalam keadaan aman pada dirinya, sehat jasmaninya dan dia memiliki makanan pada hari itu, maka seolah-olah dia diberi dunia dengan berbagai kenikmatannya.” (HR Bukhari)
Subhanalllah…
Jagalah Allah, niscaya kau akan aman.
Jagalah hubunganmu dengan hamba Allah.
Niscaya hidupmu tentram.
Sayangi tubuhmu dengan hidup sehat dan olahraga teratur,
Jangan menanti sakit.
Berdo’alah minta sehat pagi sore.
Bunuh ambisimu mengejar dunia, semakin dikejar ia semakin jauh.
Bersyukurlah dengan yang ada.
Kebutuhanmu sebenarnya tak banyak, tapi nafsu yang selalu mendikte

Dengan 3 Hal, Anda Adalah Raja